Toprak Akui MotoGP Silverstone Sulit, Masih Harus Belajar Gaya Berkendara
Silverstone ternyata bukan akhir pekan yang mudah bagi Toprak Razgatlioglu.
Pembalap Yamaha tersebut harus puas finis di antara Pol Espargaro dan rekan setimnya, Augusto Fernandez, dalam MotoGP Inggris. Pertarungan ketiganya memang cukup menarik, tetapi mereka harus finis lebih dari 40 detik di belakang Raul Fernandez yang keluar sebagai pemenang.
Bagi Toprak, hasil tersebut bukan sekadar soal posisi finis. Silverstone justru memperlihatkan satu hal penting yang masih harus ia pelajari dalam proses adaptasinya di MotoGP.
Toprak Terlibat Duel dengan Pol Espargaro

Toprak sebenarnya sempat terlibat pertarungan ketat dengan Pol Espargaro.
Namun, pembalap asal Turki itu mengaku tidak benar-benar menikmati duel tersebut karena gagal mengalahkan pembalap KTM tersebut.
“Bagi saya itu tidak menyenangkan, karena saya tidak mengalahkannya,” ujar Toprak ketika membahas duel dengan Espargaro.
Menurut Toprak, Espargaro mampu menutup sisi dalam tikungan pada lap-lap terakhir. Situasi tersebut membuatnya kesulitan menemukan peluang untuk melakukan manuver.
Toprak juga melihat ada beberapa bagian lintasan di mana dirinya lebih cepat, sementara Espargaro memiliki keunggulan di sektor lain, terutama pada lintasan lurus belakang.
Ia mencoba menyerang di chicane, tetapi jaraknya sudah terlalu jauh untuk melakukan manuver.
Hasil akhirnya, Toprak harus menerima balapan yang menurutnya sangat sulit.
Silverstone Membuka Pekerjaan Rumah Toprak

Yang lebih menarik justru muncul setelah Toprak mengevaluasi karakter lintasan Silverstone.
Menurutnya, tikungan-tikungan panjang dan cepat di sirkuit tersebut memperlihatkan bahwa dirinya masih harus menyesuaikan gaya berkendara.
Toprak merasa karakter seperti ini cukup berbeda dengan gaya yang selama ini ia gunakan ketika membalap di Superbike.
“Saya masih perlu belajar gaya ini.”
Menurut Toprak, pada tikungan lambat yang mengharuskan pembalap memperlambat motor kemudian mengangkatnya kembali, dirinya justru merasa lebih nyaman.
Masalah muncul ketika menghadapi tikungan panjang yang membutuhkan pembalap untuk lebih lama menunggu sebelum mengangkat motor dari posisi miring.
Di sinilah gaya berkendara Superbike yang sudah melekat pada dirinya masih terasa.
Gaya Superbike Tidak Bisa Langsung Dibawa ke MotoGP
Toprak datang ke MotoGP dengan pengalaman besar dari WorldSBK.
Namun, pengalaman tersebut ternyata tidak otomatis membuat proses adaptasinya berjalan mudah.
Karakter motor dan kebutuhan berkendara di MotoGP membuat Toprak harus menggabungkan gaya yang selama ini digunakannya dengan teknik yang lebih sesuai untuk motor MotoGP.
Silverstone menjadi contoh yang cukup jelas.
Pada tikungan yang lambat dan membutuhkan pengereman kuat kemudian motor segera diangkat, Toprak merasa kemampuannya sudah lebih baik.
Sebaliknya, tikungan panjang membuatnya harus belajar bagaimana mempertahankan posisi motor sebelum menemukan momen yang tepat untuk kembali mengangkatnya.
Ini menjadi salah satu pekerjaan rumah penting bagi Toprak.
Toprak Pilih Fokus pada Pelajaran dari Silverstone
Meski menyebut balapan tersebut sebagai balapan yang buruk baginya, Toprak tidak ingin terlalu lama berkutat dengan hasil akhir.
Ia justru memilih melihat apa yang bisa dipelajari dari akhir pekan di Silverstone.
Hal tersebut menjadi semakin penting karena musim berikutnya akan membawa karakter motor dan ban yang berbeda, sehingga kemampuan beradaptasi akan kembali menjadi faktor penting.
Toprak mengatakan dirinya perlu mencampurkan gaya berkendara yang sudah dimilikinya dengan karakter motor MotoGP dan ban Pirelli.
Dengan kata lain, Silverstone mungkin memberikan hasil yang mengecewakan, tetapi juga memberikan data dan pengalaman yang bisa menjadi modal penting untuk menghadapi balapan berikutnya.
Aragon Bisa Menjadi Tantangan Berikutnya
Setelah Silverstone, perhatian Toprak mulai mengarah ke Aragon.
Menariknya, ia juga melihat sirkuit tersebut berpotensi kembali menjadi tantangan untuk gaya berkendaranya.
Saat masih berkompetisi di WorldSBK, Toprak mampu mencatat hasil bagus di Aragon. Namun, ia menyadari bahwa pengalaman tersebut belum tentu bisa langsung diterapkan ketika menggunakan motor MotoGP dengan karakter ban yang berbeda.
Karena itu, Aragon akan menjadi kesempatan berikutnya untuk melihat seberapa jauh proses adaptasi Toprak berkembang.
Bukan Hanya Soal Cepat
Perjalanan Toprak di MotoGP menunjukkan bahwa berpindah kelas balap bukan sekadar persoalan membawa kecepatan dari satu motor ke motor lain.
Seorang juara WorldSBK tetap harus mempelajari kembali detail-detail kecil dalam cara mengendarai motor ketika menghadapi karakter MotoGP.
Silverstone memperlihatkan salah satunya.
Toprak mungkin belum mendapatkan hasil yang diinginkannya, tetapi ia justru menemukan bagian dari gaya berkendara yang masih perlu diperbaiki. Dan bagi seorang pembalap, kemampuan mengenali kelemahan seperti ini bisa menjadi bagian penting dari proses berkembang.
Balapan berikutnya akan menjadi kesempatan untuk melihat apakah pelajaran dari Silverstone bisa langsung diterapkan.
Buat kamu yang mengikuti perjalanan Toprak Razgatlioglu, MotoGP, dan perkembangan dunia balap, terus pantau PortalBalap.com untuk cerita otomotif dan motorsport lainnya.